Temuan · Bab 1

“Dibangun di tempat yang tidak bisa dijangkau siapa pun.” Tidak terbukti sebagai fenomena massal, tapi kasus keterpencilannya nyata.

Tuduhan yang paling sering didengar soal program ini: koperasi didirikan di tempat terpencil, di tengah hutan, di lereng gunung, di lokasi tanpa jalan, sebagai bukti bahwa program lebih mementingkan kuota daripada kebutuhan. Jawaban kami terbelah dua lapis, dan keduanya harus dibaca bersamaan.

95%
penduduk Indonesia dalam ±1,4 km dari koperasi
146
koperasi tanpa penduduk dalam radius 5 km
21,3%
koperasi di sel 400 m tanpa populasi tercatat
5.106
koperasi tanpa jalan beraspal dalam ±5 km
9,7km
median jarak ke jalan terdekat bagi yang terpencil
0
koperasi berkoordinat mustahil, di luar Indonesia (20 pada 5 Agustus; semuanya sudah dikoreksi pemerintah pada potret 9 Agustus)

Lapis pertama: jangkauan program justru sangat baik

Kami mengukur jangkauan program dengan peta kepadatan penduduk berpetak 400 meter. Hasilnya: hampir semua orang Indonesia tinggal dekat dengan sebuah koperasi. 95% penduduk berada tak lebih dari 1,4 km dari koperasi, dan 99,8% dalam 5,1 km. Program ini tidak meleset dari penduduk. Program ini menyentuh hampir semua orang.

Hasil ini harus dikatakan apa adanya: tuduhan “dibangun di tempat tak terjangkau” tidak berlaku sebagai fenomena massal. Yang justru menarik adalah kombinasi dua hal: jangkauan nyaris sempurna, tetapi aktivitas yang dilaporkan juga nyaris nol (lihat Bab 3). Ini pola kejenuhan, bukan pola keterpencilan. Programnya menyebar sampai ke mana-mana.

Lapis kedua: ada kasus keterpencilan yang nyata dan bisa diperiksa

Tidak terbukti massal bukan berarti tidak ada yang perlu diperiksa. 146 koperasi tanpa penduduk dalam 5 km adalah 146 kasus nyata, dengan nama dan titik koordinat, yang bisa dicek satu per satu. Angka-angka ekor ini, setelah koordinat yang mustahil dikoreksi pemerintah (lihat lampiran metode 08):

Ukuran Jumlah Bagian
Tanpa penduduk dalam 5 km 146 0,18%
Sel 400 m tanpa populasi 17.774 21,3%
Tanpa jalan beraspal dalam ±5 km (OSM) 5.106 6,1%
Tanpa jalan sama sekali dalam ±5 km 4.294 5,1%
Di antara 2.500 paling terpencil: bersertifikat lahan “Terverifikasi” 384
… dan juga di medan yang naik-turun tajam 175
Berkoordinat mustahil (di luar Indonesia) 0
Sumber: lampiran metode 03, 04, 05, 08. Angka “jalan” adalah batas bawah: peta yang kami pakai (OpenStreetMap) belum lengkap di desa-desa Indonesia.

Uji kedua yang berdiri sendiri: ada rumah di sekitarnya atau tidak

Peta populasi bisa salah, terutama di hutan dan pulau kecil, jadi angka “petak tanpa populasi” di atas tidak boleh berdiri sendiri. Kami mengujinya dengan sumber yang sama sekali lain: peta gabungan bangunan dari Google, Microsoft dan OpenStreetMap, 137 juta bangunan. Pertanyaannya sederhana, ada rumah di dekat koperasi itu atau tidak.

Hasilnya menguatkan kedua lapis sekaligus. Secara nasional 44,36% koperasi berdiri tepat di petak yang berisi bangunan dan 75,2% punya bangunan dalam ±260 m, jadi sebagian besar program ini memang berada di tengah permukiman. Tetapi 1,19% tidak punya satu pun bangunan terpetakan dalam ±5 km. Dan kedua pengukuran itu sepakat soal siapa yang terpencil: dari 17.774 koperasi di petak tanpa populasi, hanya 1,8% yang berdiri di petak berbangunan, dibanding 44,4% secara nasional. Dua peta yang dibuat dengan cara berbeda menunjuk ekor yang sama.

Tanahnya sendiri: seberapa tinggi, seberapa naik-turun

Tuduhan “di lereng gunung” perlu diukur, bukan cuma dibayangkan. Kami mengambil ketinggian tanah di bawah setiap koperasi dari model ketinggian global Copernicus, lalu menghitung berapa besar tanah itu naik-turun dalam radius sekitar 200 meter.

Sebagian besar program ini berdiri di tanah datar dan rendah, sebagaimana mestinya: median ketinggiannya 67 meter, dan hampir 45% berada di bawah 50 meter. Tetapi 12.325 koperasi (14,8%) berdiri di tanah yang naik atau turun lebih dari 60 meter dalam jarak sekitar 200 meter, dan 1.505 berada di atas 2.000 meter.

Sekali lagi ini cerita Indonesia timur, dan kali ini dari sumber yang sama sekali tidak tahu apa-apa soal SIMKOPDES: 44,7% koperasi Papua berada di tanah yang naik-turun tajam, dibanding 6,1% di Jawa.

Yang diukur, dan yang tidak Angka ini bukan kemiringan lereng. Yang kami hitung adalah selisih tinggi tertinggi dan terendah di sekitar titik itu, jadi ia tidak bisa membedakan tanjakan yang rata dengan tanah datar yang tepinya jurang, dan tidak punya arah. Kami menyebutnya “naik-turun tajam”, bukan “lereng curam”, karena itulah yang benar-benar terukur. Tanah terjal juga bukan berarti sulit dijangkau: perbukitan berteras di Jawa curam sekaligus mudah dicapai. Soal jangkauan ada di bagian jalan di bawah.

Berapa jauh sebenarnya “jauh”?

Untuk 5.106 koperasi tanpa jalan beraspal dalam 5 km, kami mengukur ulang jaraknya satu per satu dengan perhitungan yang tepat:

Jarak eksak ke jalan beraspal Koperasi
5–10 km 2.467
10–25 km 1.872
25–50 km 523
50–100 km 57
lebih dari 100 km 7
Sumber: lampiran metode 08. Separuh koperasi ini berjarak lebih dari 9,7 km; 587 di antaranya lebih dari 25 km.

Lahan: sawah, hutan, dan kuburan

Dua tuduhan soal lahan diuji dengan citra satelit dan peta penggunaan lahan:

Yang kami ukur adalah di mana koordinatnya tercatat, bukan di mana bangunannya berdiri, dan untuk sawah perbedaan itu menentukan. Kalau sistem mencatat koordinat di titik pusat desa, maka desa yang sebagian besar sawah otomatis akan “masuk sawah”, dan hasilnya akan berupa angka yang beberapa kali lebih tinggi daripada titik pusat desa OpenStreetMap. Itu persis bentuk yang kami temukan. Jadi angka 2,4 kali itu cocok dengan dua cerita sekaligus: koperasi yang benar-benar berdiri di tengah sawah, dan koordinat yang tidak pernah menunjuk bangunan mana pun.

Kami punya satu uji yang bisa memisahkan keduanya, karena bangunan berdiri di dekat jalan sementara titik pusat desa tidak harus. Uji itu tidak memihak tuduhan: kandidat sawah justru lebih jarang berada di pinggir jalan (59,5% dalam ±140 m) dibanding koperasi lain di provinsi yang sama (72,5%). Itu konsisten dengan penempatan sungguhan di tengah sawah, dan sama konsistennya dengan koordinat yang memang bukan bangunan.

Karena itu tulisan yang tepat adalah “tercatat di dalam sawah”, bukan “dibangun di sawah”, sampai citra satelit memutuskan. Dan kalau jawabannya ternyata koordinatnya yang salah, itu bukan temuan yang lebih kecil, melainkan temuan yang berbeda: berarti daftar resminya tidak tahu di mana koperasinya sendiri berada.

Sebagian besar cerita ini ada di Indonesia timur

Ketika dipetakan per pulau, ekor keterpencilan hampir seluruhnya milik Indonesia timur: 70,7% koperasi Papua berada di petak tanpa populasi (Jawa 2,6%), dan hanya 3,1% lahannya yang terverifikasi (Jawa 62,7%). Jawa justru kebalikannya. Cerita “terpencil” adalah cerita Papua, Maluku dan Kalimantan, bukan cerita nasional.

Satu angka yang tidak kami pakai di sini: jarak ke minimarket terdekat, yang di Papua bermedian 74,4 km melawan 6,7 km di Jawa. Selisih itu terlihat dramatis, tetapi peta ritel yang kami punya hanya memuat sekitar seperdelapan gerai Indomaret dan sepersepuluh Alfamart, dan di Papua Tengah tidak memuat satu pun. Jadi angka itu sebagian besar mengukur di mana sukarelawan peta bekerja, bukan di mana tokonya ada. Kami menyebutkannya supaya pembaca tahu angka itu ada dan tahu kenapa kami tidak menyandarkan apa pun padanya.

Vonis bab ini

Tuduhan “dibangun di tempat tak terjangkau” tidak berlaku sebagai fenomena massal, jangkauannya nyaris sempurna. Tetapi kasus keterpencilannya nyata, bisa dihitung, dan bisa diperiksa: 146 koperasi tanpa penduduk dalam 5 km, ribuan tanpa jalan, 448 tercatat di lahan pertanian menurut dua peta sekaligus, dan semula 20 berkoordinat mustahil, yang pemerintah telah koreksi. Dua peta yang dibuat terpisah, peta penduduk dan peta bangunan, menunjuk ekor yang sama, jadi ekor itu bukan cacat satu sumber.

Yang belum bisa kami pisahkan secara otomatis: mana yang dibangun di tempat mustahil dan mana yang hanya tercatat di sana karena koordinat salah. Untuk kasus sawah kami sudah mencoba memisahkannya dan gagal. Keduanya adalah temuan, tetapi cerita yang berbeda.

Lampiran metode: 03 · 04 · 05 · 07 · 08 · 14 · 17