Temuan · Bab 2

“Dibangun berdekatan dengan minimarket yang sudah ada.” Kedekatan jarak ini memang nyata, tapi sedang; kompetisi dagang tidak bisa dibuktikan dari data yang kami miliki.

Tuduhan kedua: program membangun koperasi di desa yang sudah punya minimarket modern (Indomaret, Alfamart, dan sejenisnya), tumpang tindih yang boros. Yang bisa kami ukur dengan tepat adalah kedekatan fisik. Yang tidak bisa kami buktikan adalah kompetisi dagang atau niat.

6,7pt
lebih mungkin minimarket punya koperasi dalam 500 m, vs lokasi acak yang sama ramainya
3,7pt
kelebihan yang sama pada jarak 1 km: menyusut cepat
22,2%
koperasi punya koperasi lain dalam 1 km
4,6%
koperasi punya koperasi lain dalam 500 m
2.513
sel ±1 km berisi ≥2 koperasi
0ρ
korelasi ukuran klaster vs output per koperasi

Kedekatan dengan minimarket: nyata, tapi sedang dan terbatas

Menghitung “berapa minimarket di dekat koperasi” saja tidak cukup. Baik minimarket atau koperasi sama-sama sering berada di jalan utama daerah berpenduduk, jadi kedekatan itu bisa jadi adalah kebetulan belaka. Karena itu kami membandingkan setiap minimarket dengan lokasi acak yang setara: sama-sama di jalan, dan sama ramainya, yaitu di petak yang jumlah penduduknya sama padatnya dengan petak minimarket itu.1

Hasilnya: setelah faktor itu diimbangi, sebuah minimarket yang terpetakan sekitar 6,7 poin persentase lebih mungkin memiliki koperasi dalam 500 m dibanding lokasi acak yang sebanding (kisaran 5,7 sampai 7,7).2 Kelebihan itu menyusut cepat mengikuti jarak dan praktis habis pada 5 km: 3,7 poin pada 1 km, 1,5 poin pada 2 km, 0,2 poin pada 5 km. Pola menyusut itulah tanda tumpang tindih jarak dekat yang sebenarnya, bukan kedekatan yang berlaku di mana-mana.

Diagram cara kerja perbandingan dengan lokasi acak: 43,8% minimarket sungguhan punya koperasi dalam 500 m, 37,1% lokasi acak yang sama ramainya, kelebihan 6,7 poin.
Titik-titik pada gambar hanya ilustrasi; persentasenya angka sebenarnya. Minimarket sungguhan dan lokasi acak “setara” diukur dengan lingkaran 500 m yang sama. 43,8% minimarket punya koperasi dalam 500 m; di lokasi acak yang sama ramainya angkanya 37,1%, dan itu hanyalah kebetulan lokasi. Sisanya, 6,7 poin, adalah kedekatan di luar kebetulan. Kelebihan itu menyusut mengikuti jarak dan praktis habis pada 5 km.

Perlu dicatat: angka ini adalah batas bawah. Peta yang kami pakai hanya memuat sebagian minimarket Indonesia (13,8% gerai Indomaret, 10,9% Alfamart),3 dan kami bahkan belum memasukkan warung dan toko kelontong kecil, justru ritel yang paling dekat dengan desa. Kehadiran adalah bukti; ketidakhadiran bukan.

Koperasi yang saling menumpuk: klaster

Bagaimana dengan koperasi terhadap sesama koperasi? Kami menghitung jarak terdekat setiap koperasi ke koperasi lain:

Ada koperasi lain dalam… Bagian koperasi
500 m 4,6%
1 km 22,2%
2 km 58,9%
5 km 91,3%
Lampiran metode 10. Angka ini dari himpunan “bersih” setelah 798 koperasi berkoordinat ganda dikeluarkan (lihat di bawah).

Dua hal yang perlu diingat. Pertama, 91% koperasi punya saudara dalam 5 km. Itu konsekuensi wajar dari program “satu koperasi per desa” di Indonesia yang padat, bukan bukti penumpukan. Kedua, pada ujung yang ketat ada jejak nyata: 1 dari 5 koperasi punya koperasi lain dalam 1 km, dan ada 2.513 petak 1 km berisi dua koperasi atau lebih. Petak terpadat berisi 8 koperasi yang jaraknya benar-benar masuk akal, di Aceh Barat Daya. Kelompok yang lebih besar dari itu semuanya koordinat yang mencurigakan, bukan bangunan yang benar-benar menumpuk.4

Perlu kehati-hatian Sebagian besar “koperasi menumpuk” pada skala halus ternyata jejak data: 798 koperasi berkoordinat ganda, dan pada skala sekitar 350 meter mereka adalah 64% dari tumpang tindih yang tampak. Pada skala itu, 1.250 menjadi 450 setelah jejak tersebut dikeluarkan. Tuliskan “tercatat di lokasi yang sama”, bukan “dibangun di lokasi yang sama”, sampai citra memutuskan.

Apakah penumpukan merugikan kinerja? Ternyata tidak terukur

Dugaan yang kami uji: koperasi yang berdekatan saling berebut warga, jadi hasil per koperasi lebih rendah. Kalau dugaan itu benar, koperasi yang berbagi petak seharusnya lebih jarang melaporkan transaksi. Yang terjadi justru sebaliknya, walau tipis: 4,5% yang berbagi petak melaporkan transaksi, dibanding 3,7% yang terpencil.5 Ukuran kelompok juga tidak berkorelasi dengan nilai per koperasi (ρ ≈ 0). Dugaan itu tidak didukung. Ini hasil nol yang jujur: mengingat data dagang 97% kosong, “tidak ada penalti” adalah pernyataan terkuat yang diizinkan data, bukan ukuran ketiadaan kompetisi.

Barang yang dijual memang barang yang sama

Konteks ini penting: lebih dari tiga perempat nilai penjualan yang dilaporkan program adalah beras dan minyak goreng, dengan pupuk sebagai barang utama lainnya, persis barang yang dijual minimarket dan warung desa. Jadi secara produk, koperasi ini memang masuk pasar yang sama. Tapi itu deskripsi peran, bukan bukti kanibalisasi.

Vonis bab ini

Kedekatan dengan ritel modern nyata tapi sedang, sekitar 6,7 poin dalam 500 m, menyusut menjadi 3,7 poin pada 1 km dan habis pada 5 km, sementara tumpang tindih antar-koperasi nyata tapi tanpa penalti kinerja yang terukur. Yang dibutuhkan tuduhan publik, yaitu bukti koperasi merebut pelanggan minimarket atau program sengaja dibangun di atasnya, tidak dapat dibuktikan dari data ini: data dagang 97% kosong, dan kedekatan juga bisa berarti keduanya mengejar titik ramai desa yang sama. Tumpang tindih dengan koperasi lama (KUD dan sejenisnya) tidak bisa diuji sama sekali: tidak ada daftar koperasi sebelum program ini.

Catatan

  1. “Sama ramainya” di sini bukan kiasan. Setiap petak 400 m punya angka jumlah penduduk, dan lokasi acak pembandingnya diambil supaya sebaran kepadatan penduduknya sama persis dengan sebaran kepadatan di petak-petak minimarket (median 3.786 orang di kedua kelompok). Menyamakan kepadatan itu penting. Pembanding yang lebih longgar, yang hanya menuntut “di jalan dan ada penduduknya”, jatuh di tempat yang jauh lebih sepi daripada minimarketnya sendiri (median 2.374 orang), dan karena koperasi memang lebih rapat di tempat ramai, selisih kepadatan itu sendiri sudah ikut terhitung sebagai “kedekatan”. Dengan pembanding longgar itu angkanya 9,6 poin; setelah kepadatannya disamakan, 6,7 poin.
  2. Lokasi acak itu diundi, jadi hasilnya sedikit berbeda tiap kali diundi ulang. Angka yang kami sebut adalah rata-rata dari 40 kali pengundian, dan kisarannya adalah rentang 95% dari pengundian itu. Satu kali undian saja tidak cukup untuk disebut sebagai angka pasti.
  3. Pembagi angka ini, yaitu jumlah gerai nasional Indomaret dan Alfamart, adalah angka perkiraan dari laporan perusahaan yang kami masukkan sebagai tetapan di dalam skrip, bukan angka yang kami verifikasi sendiri. Angka itu hanya dipakai untuk menyatakan seberapa tidak lengkap peta yang kami pakai; tidak ada satu pun hitungan lain di bab ini yang bergantung padanya.
  4. Petak yang secara mentah tampak paling padat berisi 17 koperasi (Wamena, Papua Pegunungan), tetapi itu bukan penumpukan yang nyata: jarak antar-anggotanya bermedian 5,4 meter, dan dua kelompok terbesar berikutnya bermedian 0,24 dan 0,27 meter. Bangunan tidak berdiri beberapa sentimeter dari satu sama lain, jadi itu koordinat yang dicatat di titik yang sama, bukan koperasi yang dibangun berimpitan. Penyaringan 798 koordinat kembar hanya menangkap yang persis sama, bukan yang berjarak beberapa meter: 97 koperasi masih tercatat dalam jarak 1 meter dari koperasi lain, 117 dalam 10 meter, dan 79 di antaranya di Papua.
  5. Perbandingan ini hanya bisa dilakukan pada 65.500 koperasi yang datanya tersambung ke statistik desa, dari 82.581 koperasi di himpunan bersih. Selisih 4,5% dan 3,7% itu kecil tetapi bukan nol secara statistik. Arahnya berlawanan dengan tuduhan kanibalisasi, dan kami tidak membacanya sebagai “berdekatan itu menguntungkan”: koperasi yang berdekatan cenderung berada di daerah yang lebih ramai, dan daerah ramai memang lebih rajin melapor.

Lampiran metode: 06 · 10 · 12 · 08