Sebuah investigasi data · 2026

83.379 koperasi dibangun atas nama “desa merah putih”. Apa yang sebenarnya terjadi?

Program Koperasi Desa Merah Putih menempatkan koperasi di hampir setiap desa di Indonesia, lebih dari 83 ribu titik, dari Aceh sampai Papua melalui Instruksi Presiden No. 9 Tahun 2025. Di balik angka itu beredar tiga tuduhan: sejumlah koperasi dibangun di lokasi yang tak lazim, sebagian di pelosok yang nyaris tak tersentuh orang, sebagian lagi di atas tanah yang bukan tempatnya, seperti tengah sawah atau tepi hutan; banyak yang didirikan tepat di depan minimarket yang sudah ramai; dan anggaran digelontorkan besar-besaran sementara hasilnya senyap. Kami memeriksa ketiganya satu per satu dengan data yang bisa diunduh siapa saja, dan dengan kejujuran untuk menyebut klaim apa adanya sesuai hasil analisis.

Mulai membaca Langsung ke ringkasan temuan
83.379 titik koperasi 38 provinsi Rp 202,6 miliar nilai transaksi tercatat sumber: SIMKOPDES · 13-08-2026

Catatan data

Apa arti sebuah titik pada peta ini?

Seluruh titik pada peta laporan ini memakai koordinat resmi dari SIMKOPDES. Platform itu sendiri menyatakan bahwa angka yang ditampilkan adalah jumlah koperasi yang telah terbentuk secara kelembagaan, bukan jumlah gedung atau gerai yang telah dibangun, dan bahwa posisi pada peta resminya adalah visualisasi representatif per wilayah, bukan koordinat geografis presisi setiap koperasi. Dengan kata lain, koordinat yang kami pakai adalah perkiraan lokasi, bukan titik gedung yang pasti, dan seluruh analisis kedekatan di laporan ini, misalnya jarak ke penduduk, jalan, atau minimarket, ikut mewarisi ketidakpastian itu.

Faktanya, sebagian besar titik bahkan belum tentu memiliki bangunan. Dari 83.379 koperasi yang terdaftar per 13 Agustus 2026, baru 20.221 (24,3%) yang mencatat pembangunan fisik selesai 100%, sementara lebih dari separuh koperasi (54,4%) tidak memiliki catatan tahap pembangunan sama sekali. Sebuah titik pada peta bisa jadi koperasi yang masih berupa rencana, bukan gedung yang sudah berdiri.

Karena itulah lokasi sebenarnya tiap koperasi masih menjadi pertanyaan terbuka. Ke depan kami berencana memperbaiki fitur verifikasi gotong royong agar publik dapat ikut memastikan lokasi nyata tiap koperasi, dan situs ini kemudian dapat memakai hasil verifikasi itu sebagai sumber utama analisis.

Bab 1 · Akses

Tuduhan pertama: koperasi dibangun di tempat yang tak lazim.

Kami mulai dari jangkauan. Dengan peta kepadatan penduduk berpetak 400 meter, kami menghitung berapa banyak orang Indonesia yang rumahnya dekat dengan sebuah koperasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa Kopdes dibangun di hampir tiap desa, dan sebagian besar di antaranya berada dekat dengan populasi penduduk.

Bab 1 · Akses

Jangkauannya nyaris sempurna.

95% penduduk Indonesia tinggal tak lebih dari 1,4 km dari sebuah kopdes. Jangkauan ini bukan kebetulan: program ini memang menempatkan satu koperasi di hampir setiap desa, sehingga jarak ke koperasi terdekat cukup pendek hampir di setiap tempat (dengan asumsi koordinat yang dilaporkan SIMKOPDES sesuai). Perlu dicatat, kami mengukur dengan sel heksagonal 400 meter. Di desa kecil yang berbukit, atau di luar pusat pemukiman, koperasi yang “hanya” 400 meter saja sudah bisa terasa jauh. Maka kami tidak berhenti pada angka rata-rata: kami juga mencari koperasi yang benar-benar di luar jangkauan.

Grafik di samping: pangsa penduduk terhadap jarak ke koperasi terdekat.

Bab 1 · Akses

Tetapi ada pencilan yang nyata.

Tidak terbukti massal bukan berarti tidak ada masalah. Secara keseluruhan, 17.774 koperasi berada di petak 400 meter tanpa penduduk tercatat; di antaranya, 146 koperasi bahkan tanpa satu pun penduduk dalam radius 5 kilometer.

146 dari 83.379 hanyalah 0,2% dari program, tetapi itu 146 kasus nyata, dengan nama dan titik koordinat, yang bisa diperiksa satu per satu.

Kasus-kasus pencilan →

Bab 1 · Akses

Ada yang memang benar-benar 'jauh'.

5.106 koperasi tidak punya jalan beraspal dalam radius 5 km. Saat diukur ulang dengan teliti, separuhnya berjarak lebih dari 9,7 km dari jalan terdekat; 7 di antaranya lebih dari 100 km dari jalan terdekat mana pun.

Semula 20 koordinat koperasi bahkan berada di luar Indonesia, dengan koordinat yang mustahil; data ini sudah dikoreksi pada website SIMKOPDES, dan pada potret 9 Agustus 2026 semuanya sudah kembali ke dalam negeri.

Perkampungan di atas bukit, Papua
Banyak koperasi yang paling terpencil berada di Indonesia timur. Papua memegang 8,5% koperasi tetapi hanya 0,6% dari nilai transaksi yang dilaporkan. Foto: “Papua Village on hill”, Irfantraveller, CC BY-SA 4.0.

Bab 2 · Kompetisi

Tuduhan kedua: koperasi dibangun di dekat minimarket yang sudah ramai.

Kami menguji dua lapis “tumpang tindih”: sesama kopdes, lalu dengan ritel modern yang sudah ada. Keduanya ternyata bukan cerita yang sama.

Bab 2 · Kompetisi

Kopdes vs kopdes: memang berdekatan.

Sebelum menengok minimarket, kita lihat dulu lokasi kopdes terhadap sesama kopdes lainnya. Program ini menempatkan satu kopdes per desa, dan desa-desa di wilayah padat Indonesia memang saling berdekatan. Hasilnya wajar: 91% kopdes punya kopdes lain dalam 5 km, dan satu dari lima hanya berjarak 1 km.

Bab 2 · Kompetisi

Berbagi petak sungguhan tidak banyak terjadi, dan tidak selamanya merugikan.

Hanya 6,8% kopdes benar-benar berbagi petak 1 km dengan kopdes lain. Sebagian besar “tumpang tindih” yang tampak pada peta ternyata hanya jejak data: koordinat ganda, bukan bangunan bersebelahan.

Yang lebih penting, kopdes yang berdekatan melaporkan transaksi sama seringnya dengan yang sendirian. Tidak ada penalti yang terukur.

Soal kanibalisasi, selengkapnya →
Toko Indomaret di Jombang, Jawa Timur
Kedekatan dengan minimarket memang ada, tetapi sedang: 6,7 poin lebih sering dalam 500 m dibanding lokasi acak yang sama ramainya, menyusut jadi 3,7 poin pada 1 km. Ritel modern dan koperasi ini ada di lingkup yang berbeda. Foto: “Indomaret RE Martadinata Jombang”, Indonesiagood, CC BY 4.0.

Bab 3 · Anggaran & output

Tuduhan ketiga: uang keluar besar-besaran, hasilnya nyaris tak terlihat.

Inilah tuduhan yang paling kuat di antara semuanya

Bab 3 · Anggaran & output

Angka nasionalnya: Rp 202,6 miliar.

Angka ini bukan uang yang dikeluarkan negara, melainkan penjualan yang dilaporkan koperasi: Rp 202,6 miliar per 13 Agustus 2026, naik dari Rp 179,5 miliar pada 5 Agustus. Dibagi rata, setiap koperasi “menghasilkan” sekitar Rp 2,43 juta seumur hidupnya, dan rata-rata itu sendiri menyesatkan: 96,7% desa tidak melaporkan apa-apa.

Lihat grafik di samping: sistem mencatat 96% desa punya rekening dan 97% punya NPWP, tetapi hanya 3,3% yang melaporkan transaksi. Mesin pendaftaran bekerja; mesin operasinya senyap.

Soal anggaran, selengkapnya →

Bab 3 · Anggaran & output

Izinnya lengkap; bisnisnya senyap.

Tujuh dari sepuluh koperasi mengantongi NIB, izin resmi berusaha. Hanya 23 desa yang melaporkan transaksi tanpa izin. Tetapi 70% desa memegang izin dan tidak melaporkan transaksi apa pun: izinnya ada, dagangnya tidak.

Simpanan bercerita serupa: 87,5% desa tidak mencatat simpanan sama sekali, dan di yang ada, uangnya adalah modal awal, bukan tabungan yang berjalan.

Bab 3 · Anggaran & output

Dan aktivitas yang ada pun menumpuk di segelintir desa.

100 desa menyumbang 34,8% dari seluruh nilai transaksi nasional; 1.000 desa menyumbang 90,6%. Antara 5 dan 9 Agustus angkanya praktis diam: naik 0,13%, satu desa baru. Lalu antara 9 dan 13 Agustus melonjak: 209 desa pelapor baru dan nilai naik 12,7%. Pertanyaannya bukan lagi “apakah ada yang melaporkan”, melainkan apakah tunggakan mulai terbayar.

Konstruksinya baru seperempat yang selesai. Rapat anggota tahunan (RAT): tercatat untuk 60% koperasi, tetapi hanya 6% di Papua Pegunungan.

Tumpukan uang rupiah
Rp 202,6 miliar penjualan terdengar besar, tetapi itu sekitar Rp 2,43 juta per koperasi seumur hidupnya, dan angka itu adalah catatan pemerintah sendiri. Foto: “Rupiah swath”, Jonny-mt, CC BY 3.0.

Momen peta

83.379 titik, satu peta.

Setiap titik adalah satu koperasi terdaftar. Geser dan perbesar untuk melihat bagaimana program ini ditebar, lalu gunakan filter untuk melihat pencilan yang nyata: koperasi yang tak tersentuh penduduk, yang jauh dari jalan, dan yang koordinatnya mustahil.

Memuat 83.379 titik…
Data titik: SIMKOPDES, snapshot 13-08-2026. Warna hanya untuk filter; tidak ada ukuran yang mengklaim apa pun.
Buka penjelajah peta penuh filter, skala warna, dan inspeksi per wilayah

Vonis

Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?

Tiga tuduhan dan serangkaian temuan.

Tidak terbukti massal

“Terpencil”

Jangkauan terhadap populasi penduduk cukup baik: 95% penduduk dalam ±1,4 km. Tetapi kasus pencilannya nyata: 146 koperasi tanpa penduduk dalam 5 km, semuanya bisa diperiksa satu per satu.

Baca bab Akses →
Sebagian yang terbukti

“Kanibalisasi”

Kedekatan lokasi dengan minimarket eksisting memang ada, begitu juga kedekatan sesama kopdes.

Baca bab Kompetisi →
Paling didukung data

“Tidak ada hasil”

Penjualan yang dilaporkan seluruh program: Rp 202,6 miliar, dan mesin operasinya nyaris senyap. Hanya 3,3% desa melaporkan transaksi. Ini catatan resmi di website SIMKOPDES, setelah program berjalan lebih dari satu tahun sejak Instruksi Presiden No. 9 Tahun 2025. Sisi biayanya tidak ada dalam data ini, jadi “boros” sendiri tidak bisa kami uji.

Baca bab Anggaran →

Metodologi lengkap di Lampiran metode · data yang bisa diunduh di Data & sumber · Tentang & kebijakan koreksi